Rabu, 13 Februari 2019

FATMAWATI SOSOK PEJUANG WANITA DARI BENGKULU


Assalammualaikum,…..
5 Pebruari 2019, teman-teman blogger Bengkulu mengingatkan bahwasanya tanggal itu adalah hari kelahiran ibu Negara pertama Ibu Fatwati Soekarno, ribuan ucapan mengenang beliau betebaran di media social, pikiran bunda melayang membayangkan sosok yang sungguh mengagumkan.

Pigur seorang wanita yang kuat yang telah menjalani hidup dengan penuh liku perjuangan, susah, senang, sedih, bahagia semua ada pada beliau, dan tentunya hal seperti itu jika dibandingkan dengan kehidupan kita saat ini tentunya jauh berbeda, akan tetapi pikiran bunda melayang membayangkan posisi beliau saat itu, kekaguman bunda tidak dapat dibendung, sungguh engkau seorang ibu, seorang istri dan seorang ibu Negara yang sangat luar biasa, bunda jadi ingin mengajak kita semua kembali menyimak sosok beliau  lebih mendalam, tentang kepahlawanan beliau  dari berbagai sejarah dan cerita yang pernah bunda dengar.
Mesin Jahit ibu Fatmawati di Rumah fatmawati kelurahan Penurunan

Terlahir dengan nama asli Fatimah dari pasangan suami istri Hasan din dan Siti chodijah, dari nama dan identitas keluarga sangat jelas terlihat begitu kental nuasa islam ada pada diri beliau, sebagai seorang putri dari seorang pengurus organisasi islam yaitu Muhammadiyah, kuatnya prinsif Hasan din terhadap agama dan organisasinya membuat dia mengambil keputusan untuk keluar sebagai seorang pegawai perusahaan belanda saat itu, jadilah Fatimah kecil selalu ikut ayahnya berpindah-pindah tempat dan pekerjaan.

Keturunan bangsawan
Menilik sejarah dan cerita Fatimah atau ibu Fatwati sebenarnya adalah keturunan bangsawan di Bengkulu, ayahnya Hasan Din merupakan keturunan ke enam dari putri Bunga melur, yang merupakan penguasa kerajaan Indrapura dari wilayah muko-muko, putri Bunga belur artinya adalah putri yang cantik jelita, tidak heran jika tabiat dari fatwati menggambarkan keagungan seorang putri.

Beliau megenyam pendidikan di Hollandsehe school (HID) dan melanjutkan pendidikan disebuah sekolah yang dikelolah oleh organisasi khatolik, sejak kecil fatmawati aktif berorganisasi beliau aktif di Naysatul Asyiyah sebuah organisasi perempuan dibawah Muhammadiyah.
Cantik, berwibawa  ibu Fatmawati di setiap kesempatan mendampingi Soekarno

Masa remaja dan Bertemu Soekarno
Lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukkan jati diri seseorang, begitu juga dengan fatmawati remaja, ajaran agama yang kental dalam keluarga di tambah situasi politik yang merebaknya perjuangan rakyat melawan penjajah telah membentuk kepribadian yang kuat pada diri fatmawati, membentuk karakter fatmawati bukan sekedar seorang anak yang patuh pada orang tua dan tradisi akan tetapi cenderung menyikapi kehidupan dengan social culturalnya.

Rutinitas kehidupan sehari-hari belajar mengaji setiap hari membantu mengurus pekerjaan orang tuanya. Jadwal belajar yang padat dengan pemandangan sehari-hari selalu dijadikannya sebagai bahan ajaran bagi kehidupannya. Bahkan di usia yang masih remaja, atau kalau boleh dibilang masih anak-anak, Fatmawati telah mengalami pencerahan yang cukup matang sehingga mampu melampaui batas-batas nilai kapasitas umumnya anak remaja. Bersekolah sambil berjualan untuk membantu meringankan beban orang tuanya, menunggu warung, serta berobat sendiri ke rumah sakit, merupakan bukti diri akan semangat kemandirian serta rasa percaya diri yang matang,
Sejumlah kenangan yang di tinggal di Rumah Kediaman yang sekarang menjadi musium Fatmawati Soekarno 

Memiliki prinsif yang teguh dan kokoh, serta kemandirian terpancar jelas dalam sikap dan kepribadiannya , hal ini juga yang membuat Soekarno saat itu yang sedang menjalani masa pengasingan di Bengkulu dan sempat menjadi guru fatmawati merasa sangat tertarik, fatmawati remaja sudah dapat diajak berdiskusi tentang filsafat islam. Hokum-hukum islam, dan prinsif-prinsif kehidupan islam. Soekarno sendiri sebagai gurunya mengakui kecerdasan fatmawati dalam buku  (Cindy Adams, 1966 185-198)

Tidak setuju dengan Poligami
Walaupun fatmawati hanya seorang gadis remaja umur 15 tahun akan tetapi dia sudah sangat mengerti tentang kehidupan dan culture social lingkungan, ketajaman berpikir, prinsif kemandirian, keteguhan pada pendirian medorong beliau menjadi sosok yang tidak mudah goyah. Oleh karena itu pada saat Soekarno melamar beliau meskipun secara emosional rasa ketertarikan beliau dengan sosok soekarno tidak semerta-merta membutakan beliau untuk begitu saja bersedia di persunting soekarno, rasa empati antara sesama perempuan sudah dimilikinya, beliau sudah memahami sangat tidak menguntungkan posisi seorang perempuan dalam lingkungan social jika di poligami oleh karena itu fatmawati remaja menolak prinsif poligami, sebagaimana di ketahui saat itu soekarno sudah memiliki ibu Inggit sebagai istri pertama beliau, syarat fatmawati untuk tidak di poligami merupakan keputusan yang sangat berat diambil oleh soekarno pada waktu itu. Fatmawati telah mengawali perjuangan akan harkat dan martabat kaum perempuan jauh sebelum peraturan pemerintah untuk Pegawai negeri dan undang-undang perkawinan yang ada, dan isu gender yang marak saat ini.
Bukan hanya itu Fatmawati sangat kuat dengan pendiriannya nya niat menikah dengan soekarno walaupun Soekarno sudah tidak berada di Bengkulu tetap dilangsungkan setelah Soekarno berpisah dari ibu Inggit pada bulan juni tahun 1943 dengan cara perwakilan fatmawati menikah dengan Soekarno dan segera menyusul suami tercinta ke Jakarta untuk melanjutkan perjuangan yang lebih besar sebagai seorang istri.

Fatmawati penjahit Sang saka Merah Putih
Fatmawati sangat kita kenal sebagai penjahit bendera pusaka Merah Putih yang di kibarkan saat proklamasi kemerdekaan di rumah Soekarno di jl. Pegangsaan Timur Jakarta. Pernahkah kita bertanya siapa sebenarnya yang menyuruh beliau atau darimana pemikiran beliau tentang menjahit bendera pusaka Lalu, siapakah di antara tokoh pejuang bangsa Indonesia yang telah memikirkan tentang arti sebuah bendera bagi sebuah kemerdekaan bangsa?.
Kenyataannya selama ini belum pernah ada klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah bendera untuk Kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati. Untuk lebih jelasnya, berikut petikan dari karya tulisan beliau yang berjudul: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Fatmawati, 1978: 86): Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku.(riwayat hidup fatmawati).
Satu lagi bukti bahwasanya semangat perjuangn dalam diri fatmawati sangatla kental, Mendampingi suami yang notabane nya adalah seorang pejuang mendorong fatmawati untuk memaksimalkan potensi yang ada dalam diri dalam mendukung perjuangn suami, di saat semua sibuk memperjuangkan kemerdekaan famawati telah mempersiapkan bendera jauh hari sebelum hari kemerdekaan tiba. Betul-betul tidak bisa di ukur semangat perjuangan dalam diri fatmawati sang ibu Negara Republik Indonesia yang pertama ini.
Semoga semangat perjuangan mu selalu melekat di hati kami aaminn...
Masih banyak cerita tentang fatmawati soekarno, tidak dapat bunda tuangkan disini semuanya yang pasti kita jangan perna malas untuk membaca, menyimak perjuangan dan jiwa patriot para pahlawan kita dan tentunya harapan bunda pada generasi muda semua,
Tulisan ini di buat dalam rangka menjawab tantangan #Nulisserempak12 dari #BloggerBengkulu


4 Comments

15 Februari 2019 19.52 Delete comments

Aku suka deh baca biografi sejarah kayak gini, hebat yaa Bu Fatmawati dari usia 15 tahun udah mandiri dan secerdas itu, banyak sifat beliau yang perlu kita teladani yah..

Reply
avatar
17 Februari 2019 21.05 Delete comments

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari membaca sejarah yach mbank inka

Reply
avatar
17 Februari 2019 21.31 Delete comments

Saya bangga sekali saat tahu ada wanita yang berperan penting dalam sejarah Indonesia. Terlebih wanita itu dari Bengkulu.

Reply
avatar
17 Februari 2019 21.40 Delete comments

Bengkulu menjadi semakin keren dengan adanya sang penjahit bendera merah putih

Reply
avatar